Biografi As’ad Syamsul

Posted on

Biografi As’ad Syamsul – Pertempuran 10 November 1945 di kota Surabaya diperingati sebagai Hari Pahlawan, tak hanya melibatkan massa Suroboyo. Ada peran pemuda, laskar, dan masyarakat dari daerah lain di Indonesia.

Kemudian bagi para pejuangnya juga tidak hanya melibatkan tentara rakyat, ada juga laskar-laskar, santri, rakyat biasa, hingga bandit atau penjahat yang telah bangkit secara spiritual. Mereka terpukul mengikuti jalan jihad atau jalan suci untuk mencapai kemuliaan di sisi Allah yang membela agama, bangsa dan negara.

Para bandit insyaf tersebut dimobilisasi oleh tokoh ulama terkemuka saat itu, yaitu Kiai Haji Raden (KHR) As’ad Syamsul Arifin, pengurus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Samsul A Hasan, penulis buku sejarah tentang tokoh NU, menceritakan bagaimana Kiai As’ad terlibat dalam rapat Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945 yang juga dihadiri oleh Rais Akbar NU Hadratus Syech KH Hasyim Asy. ‘ari yang kemudian menghasilkan “Resolusi Jihad”.

Nah, di sini kami akan memberkan biografi lengkap tentang kiai As’ad Syamsul.

Kelahiran KH. As’ad Syamsul Arifin

Biografi As’ad Syamsul Kelahiran Pendidikan Perjuangan & Karomah

Biografi KH. As’ad Syamsul Arifin merupakan anak pertama dari pasangan KH. Syamsul Arifin dan Nyai Siti Maimunah dari Pamekasan, Madura. Ia memiliki satu orang adik laki-laki yaitu KH. Abdurrahman.

Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di Makkah tepatnya di desa Syi’ib Ali yang bersebelahan dengan Masjidil Haram ketika orang tuanya menunaikan ibadah haji dan menetap disana untuk memperdalam ilmu keislaman. Ada darah bangsawan di Kiai As’ad yang berasal dari kedua orang tuanya.

Ayahnya, Raden Ibrahim (KH. Syamsul Arifin), merupakan keturunan Sunan Kudus I, dan ibunya adalah Nyai Siti Maimunah, yang masih memiliki keturunan dari Sunan Ampel.

Saat berusia 6 tahun, orang tuanya membawanya kembali ke Pamekasan, Madura dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning Pamekasan, Madura. Sedangkan adiknya, Kiai Abdurrahman yang masih berusia 4 tahun dititipkan kepada Nyai Salhah yang merupakan sepupu Nyai Siti Maimunah yang tinggal di Makkah.

Setelah 5 tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As’ad diajak oleh ayahnya untuk pindah ke pulau Jawa yang saat itu masih berupa hutan belantara di daerah Asembagus, Situbondo, Jawa Timur untuk menyebarkan agama Islam.

Di sana bapaknya membangun pesantren sebagai tempat dakwah. Pemilihan tempat itu bukan tanpa alasan, melainkan atas nasehat dua ulama asal Semarang, yakni Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah.

Pembangunan awal pondok pesantren hanya berupa gubuk kayu kecil, mushola, dan pesantren untuk santri yang saat itu masih dihuni oleh segelintir orang saja. Seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya santri yang datang untuk menuntut ilmu agama, pada tahun 1914 berkembang pesantren. Pesantren ini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah.

Masa Pendidikan KH. As’ad Syamsul Arifin

Biografi As’ad Syamsul selama masa pendidikan. Sejak kecil, Kiai As’ad mendapat ilmu agama dari ayahnya yang seorang ulama. Ketika masih remaja ayahnya mengirimnya untuk belajar di sebuah pesantren tua yang didirikan pada tahun 1785 di Banyuanyar, Pamekasan, Madura.

Selama 3 tahun menimba ilmu di Pesantren (1910-1913) Kiai As’ad dibesarkan oleh KH. Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid yang masih keturunan pendiri pesantren KH. Itsbat Hasan.

Usai menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren Banyuanyar, ia diutus kembali oleh ayahnya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Selama belajar di Makkah, ia belajar di Madrasah Salathuyah, sebuah madrasah di mana sebagian besar siswa dan gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu).

Ia belajar ilmu fisika dengan ulama-ulama ternama, baik dari ulama al-Jawi maupun ulama dari Timur Tengah. Di antara gurunya adalah Syekh Abbas Al-Maliki, Syekh Hasan Al-Yamani, Syekh Muhammad Amin Al-Qutbi, Syekh Hasan A-Massad, Syeikh Bakir (Yogyakarta), Syeikh Syarif As-Sinqithi.

Setelah kembali dari Makkah dia tidak langsung melanjutkan sekolah berasrama ayahnya. Namun, ia merantau di berbagai pesantren untuk memperdalam ilmunya, termasuk Pesantren Tebuireng Jombang di bawah naungan KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Demangan Bangkalan asuhan Syaikhona Kholil, Pondok Pesantren Panji Buduran, Pondok Pesantren Tetango Sampang, dan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Saat Kiai As’ad menimba ilmu di Pondok Pesantren Syaikhona Kholil di Demangan, Bangkalan, Madura, ia adalah santri andalan Syekhona Kholil saat itu. Suatu hari pada tahun 1924 M, ketika Syekhona Kholil memanggilnya untuk ditugaskan mengantarkan tongkat bertuliskan “QS. Thaahaa: 18-21” kepada KH.

Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Setelah beberapa bulan di akhir tahun 1924 Syaikhona Kholil kembali memanggil Kiai As’ad untuk pergi ke Tebuireng menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk menyampaikan tasbih dan dzikir “Yaa Jabbar Yaa Qohhar”.

Ketika Syekhona Kholil memberikan tasbih, Kiai As’ad meminta agar tasbih itu dililitkan di lehernya. Ia menjaga amanah gurunya dan memberikan tasbih kepada KH. Hasyim Asyari sebagai tanda bahwa ia memberikan restu untuk berdirinya Nahdlatul Ulama. Dapat dikatakan bahwa dirinya adalah KH. As’ad Syamsul Arifin menyampaikan pesan untuk berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Setelah meninggalkan ayahnya, KH. Raden Syamsul Arifin pada tahun 1951, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah diberikan asuhan kepada Kiai As’ad. Di bawah asuhannya, Pesantren Salafiyah Syafi’iyah mengalami perkembangan pesat, sehingga pada tahun 1968 didirikan Universitas Syafi’iyah dengan Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Dakwah.

Baca Juga :  Passing Grade UNCEN 2017 : Daftar Fakultas dan Jurusan

Tidak berhenti sampai disitu, ia mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 1980. Kemajuan lain juga ditunjukkan pada tahun 1985 dengan didirikannya Sekolah Dasar (SD).

Setelah satu tahun, ia kembali mendirikan sekolah di bidang ekonomi dengan didirikannya Sekolah Menengah Atas Ekonomi (SMEA) pada tahun 1986. Dan pada tahun 1990 berbagai lembaga didirikan, salah satunya adalah Institut Kader Fuqoha atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ma’had Aliy yang dalam rangka mengantisipasi isu krisis ulama.

Masa perjuangan KH. As’ad Syamsul Arifin Melawan Penjajah

Tidak hanya sebagai ulama yang menyebarkan ilmu agama dan memimpin pesantren, Biografi As’ad Syamsul Kiai As’ad juga turun gunung secara gerilya untuk berperang mengusir penjajah Jepang dari Jember.

Di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono yang menjadi markas utamanya, Kiai As’ad menyusun strategi dan melancarkan serangan untuk melumpuhkan penjajah, seperti dikutip dari situs NU.

Ia memimpin para pejuang untuk melawan tentara Jepang di Garahan, Distrik Silo. Dia bersama pejuang lainnya bergerilya dari Sumberwringin menyusuri jalan puluhan kilometer, naik turun lembah, melewati hutan belantara dan menyeberangi sungai. Musuh mencium bau gerakannya dan dicegat oleh pasukan penyerang di Sungai Kramat.

Dalam perjuangannya, ia dan sepupunya KH. Abdus Shomad pernah mengenyam kursus teknik dasar kemiliteran di Jember saat itu. Dengan modal ini, ia dan kiai lainnya membentuk gerakan yang dipadukan dengan kekuatan rakyat dan santri.

Sosok kharismatiknya membuatnya disegani oleh masyarakat di daerah Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan. Terutama dihormati oleh tiga laskar di wilayah tersebut, yaitu tentara Sabilillah, tentara Hizbullah, dan Laskar Pelopor.

Semua kiai yang tergabung dalam pasukan Sabilillah mengikuti semua strategi yang dibuatnya. Begitu pula dengan mahasiswa yang tergabung dalam pasukan Hizbullah, mereka dengan senang hati mengikuti strategi gerakan perjuangannya. Tak hanya para kiai dan mahasiswa, masyarakat termasuk preman yang tergabung dalam jajaran pelopor laskar pun mengikuti strateginya.

Pasukan yang dipimpinnya berhadapan langsung dengan musuh. Meski begitu, ia dan pasukannya mampu mengatasi penjajah Jepang, sehingga membuat mereka lari ke tengah hutan. Pergerakan pasukan Kiai As’ad membuat Jepang putus asa dan akhirnya terusir tanpa pertempuran di Garahan.

Pesan KH. As’ad Syamsul Arifin dalam berjuang membela negara adalah dengan niat. Niat untuk memperjuangkan agama dan negara. Memperjuangkan agama untuk akhirat dan memperjuangkan negara untuk dunianya.

Perjuangan dalam Bidang Politik

Biografi As’ad Syamsul dalam perjuangan Ketika NU memutuskan untuk menjadi partai politik dan meninggalkan Masyumi pada tahun 1952, ia dan para sarjana nusantara lainnya mengembangkan dan memperluas layanan mereka pada politik kenegaraan yang sebelumnya hanya berfokus pada politik nasional dan kerakyatan. Bahkan pada 1957-1959 ia menjadi juru kampanye partai NU dan dipercaya mengemban amanah sebagai penasihat pribadi Wakil Perdana Menteri saat itu KH. Idham Khalid.

Menurutnya, peran umat Islam dalam mendukung partai NU dan memberikan suara saat pemilu sangat penting. Karena berdasarkan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jamaah dan konsepsi pemikiran yang dikemukakan dalam sidang bersumber dari ajaran Islam dan calon yang diajukan berasal dari ulama nasional.

Hal inilah yang membuatnya berjuang dari satu tempat ke tempat lain demi membela NU di ranah politik. Melihat perjuangannya dan kiai muda lainnya, Presiden Soekarno memilihnya untuk menduduki jabatan Menteri Agama.

Namun ia bukanlah orang yang haus akan suatu jabatan, ia dengan halus menolak tawaran tersebut karena menurutnya jabatan tersebut bukanlah keinginannya, ia lebih memilih memimpin pesantren yang ilmunya telah diwarisi oleh bapak dan gurunya.

Pengaruh Kiai As’ad tentu mengkhawatirkan para penguasa Orde Baru yang represif dan otoriter. Sehingga segala cara dilakukan untuk melemahkan NU. Melihat situasi tersebut, ulama NU menggelar Musyawarah Nasional Alim ‘Ulama yang bertempat di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Pada tahun 1983 dalam Musyawarah Nasional disebutkan bahwa NU menerima Pancasila dan Revitalisasi Khittah 1926. Ide ini dikemukakan oleh KH. Achmad Shiddiq yang langsung disetujui oleh Kiai As’ad karena ini bisa menjadi pukulan telak bagi penguasa Orde Baru yang ingin membubarkan NU dengan dalih tidak menerima Pancasila.

Dari perjuangannya di dunia politik, pada 3 November 2016 ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) RI No. 90 / TK / Tahun 2016.

Jasa dalam NU

Biografi As’ad Syamsul: Sebelum mendirikan NU, KH. Hasyim Asy’ari pertama kali bertemu dengan orang-orang saleh yang tersebar di berbagai daerah di Jawa, Madura hingga Makkah. Di antara ulama tersebut adalah Syekhona Kholil Bangkalan Madura yang dimintai pendapat oleh KH. Hasyim As’ari untuk mendirikan wadah bagi para ulama nusantara.

Saat itu Syekhona Kholil akhirnya mengutus KH. AS’ad Syamsul Arifin untuk menemui KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng. Pesan Syaikhona Kholil kepada KH. Hasyim Asy’ari berupa lambang tasbih dan penyampaian surat Thoha ayat 17-23 yang menceritakan tentang mukjizat Nabi Musa beserta tongkatnya.

Tidak lama setelah pesan pertama disampaikan, Syaikhona Kholil kembali mengutus KH. AS’ad Syamsul Arifin untuk menyampaikan pesan kepada KH. Hasyim Asy’ari berupa wiridan “Ya Jabbar Ya Qohhar”.

KH. Hasyim Asy’ari sebagai isyarah bahwa Syekhona Kholil menyetujui berdirinya Nahdlatul Oelama dan KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi pemimpin spiritual Ulama Nusantara.

Meski Kiai As’ad telah meninggal dunia, namun dawuh dan perkataannya tetap melekat dan diikuti oleh murid dan kekasihnya. Di antara wasiat (pesan) Kiai As’ad yang pernah ia sampaikan kepada murid-muridnya adalah:

  • Santri Sukorejo yang keluar dari NU (Nahdlatul Ulama), jangan harap bisa berkumpul dengan saya di akhirat.
  • Santri saya yang posisinya tidak dengan saya, saya tidak bertanggung jawab di hadapan Allah SWT (Subhanahu Wa Ta’ala).
  • Santri saya yang pulang atau mundur harus menjaga dan memikirkan minimal satu dari tiga hal, yaitu: pendidikan Islam, dakwah lewat NU dan ekonomi masyarakat.
  • Istiqamah (terus menerus) membaca Ratibul Haddad.
  • Santri saya sebenarnya publik, anak apapun, dalam keadaan apapun, akan aman dan berjaya asalkan jujur, aktif dan ikhlas.
Baca Juga :  Pengertian Perusahaan Jasa

Karomah-karomah KH. R. As’ad Syamsul Arifin

Biografi As’ad Syamsul selanjutnya adalah karomah-karomah dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin. Berikut beberapa karomah dari Biografi As’ad Syamsul:

1. Pejuang Kemerdekaan

Di antara kisah-kisah bukti kerukunan KH As’ad semasa hidupnya terungkaplah KH Fawaid. “Dulu muridnya banyak yang dari kalangan bromocorah (preman, red), jadi dia juga banyak belajar silat,” tutur KH Fawaid mengawali cerita. Ilmu silat KH As’ad, lanjut KH Fawaid, juga diajarkan kepada anak didiknya.

Dia mengatakan bahwa ketika murid-muridnya dilengkapi dengan pedang dan sabit dan diperintahkan untuk saling memotong, bagaimanapun, tidak ada pedang dan arit yang melukai mereka. Beberapa siswa lainnya diuji melompat dari pohon kelapa yang tinggi dan menemukan bahwa tubuh mereka masih dalam keadaan utuh dan bugar. Mukjizatnya, para siswa mampu menjatuhkan puluhan buah kelapa hanya dengan sekali pandang.

Tak hanya itu, ketenaran KH As’ad akan karomahan juga dibuktikan pada masa perang kemerdekaan. Terhadap kisah Hikmah, KH Fawaid juga menceritakan bahwa saat perang gerilya, beberapa pejuang tampak membawa pasir. Pasir tersebut konon merupakan pemberian KH As’ad kepada para pejuang. Pasir kemudian ditaburkan di atas kacang hijau di dekat markas tentara Belanda atau jalan yang akan dilalui banyak tentara Belanda.

“Aneh, mukjizat terjadi. Puluhan tentara Belanda yang bersenjata lengkap tiba-tiba lari ketakutan sambil meninggalkan senjatanya. Mungkin mereka mengira suara pasir adalah suara senjata api. Para pejuang juga memungut senjata-senjata peninggalan Belanda,” kata KH Fawaid.

2. Menundukkan Bandit

Saat itu, di kawasan Besuki, jemaah pada hari Jumat sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk. Setelah diselidiki oleh Kiai As’ad, ternyata ada sosok yang sangat disegani masyarakat, bajingan. Tanpa ragu, sang kiai pergi ke rumah sang tokoh.

Mengetahui bahwa tamunya adalah seorang kiai yang hebat, tuan rumah menjadi canggung dan bingung. Mereka menjadi sangat tersentuh dan dihormati, karena kiai tidak mempersoalkan dan menyalahgunakan “profesinya”. Hebatnya, ulama yang alim dan berpengetahuan ini mengaku bisa hidup bersamanya di dunia dan akhirat.

Jika dia tersesat ke neraka, kiai akan mencoba menariknya ke surga. Syaratnya, dia harus bisa mengisi masjid dengan warga sekitar di setiap salat Jumat.

Diplomasi Kiai As’ad membuahkan hasil. Selain fakta bahwa orang akhirnya berbondong-bondong ke masjid, bajingan itu akhirnya mualaf dan rajin pergi ke masjid. Misteri apa yang ada dalam diri Kiai As’ad untuk bisa menaklukkan bajingan itu? Inilah keuntungan yang diberikan Allah kepadanya.

3. Bisa Muncul di Beberapa Tempat

Lebih lanjut, KH Fawaid bahkan menceritakan ada kisah lain yang menunjukkan bahwa KH As’ad bukanlah ulama sembarangan. Kisahnya terjadi saat Kiai Mujib (sahabat KH As’ad) diundang oleh KH As’ad untuk menghadiri delapan acara walimah haji di luar kota.

Keduanya berangkat dari rumah sekitar pukul 20.30 WIB. Namun anehnya, Kiai Mujib hanya merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Ia kaget karena delapan lokasi walimah haji yang dikunjungi KH As’ad hanya berjarak dua jam.

Padahal, perjalanan pulang pergi hanya memakan waktu dua jam, padahal mereka harus mengunjungi delapan acara yang jaraknya masing-masing sangat berjauhan. Belum lagi saat KH As’ad memberikan ceramah dan jamuan makan yang tentunya memakan waktu lama. Lama sekali. Ini ajaib.

Bagaimana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam ditambah semua kejadian yang berjauhan dan memakan waktu berjam-jam bisa dilakukan hanya dalam dua jam? ”kata KH Fawaid.

Kiai Mujib pun mengungkapkan kebingungannya dengan sopir KH As’ad, H Abdul Aziz.

“Ya .. ya, kenapa begitu?” katanya, berulang kali melihat arlojinya untuk meyakinkan dirinya bahwa baru pukul 22.30 WIB.

Selidiki, seminggu kemudian. Di Sukorejo, Haji Aziz akhirnya mendapat informasi tentang keributan yang hampir terjadi di antara pemilik delapan peristiwa walimah karena masing-masing ngotot didatangi kiai pada waktu yang sama. Akhirnya, mereka yang sama-sama takjub, karena masing-masing punya bukti berupa foto saat kiai ada di rumah masing-masing, ”imbuh KH Fawaid.

Kejadian seperti itu rupanya juga dialami KH As’ad sendiri semasa kecil. Ia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid sekaligus. Menurut cerita, KH As’ad mengucapkan selamat salat Jumat bersama Imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki.

Bupati Situbondo yang mendengar hal tersebut membantah dan bersikeras agar Kiai Asadullah hari itu memimpin salat Jum’at di Situbondo, bahkan Bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Pemimpin Asembagus yang kebetulan mendengar perselisihan itu malah menjawab bahwa Kiai Asadullah adalah imam masjid di wilayahnya.

Hal ini mengingatkan KH As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai keadaan fana fi adz dzat, bisa tiga atau bahkan sepuluh sekaligus. KH As’ad akan memiliki ilmu yang sama.

Diberitakan pula bahwa ketika Nahdhatul Ulama menggelar hajatan di Sukorejo yaitu Musyawarah Nasional Alim Ulama 1983 dan Muktamar NU 1984, bantuan logistik mengalir, bahkan melimpah, dari masyarakat, khususnya warga NU. Tujuh hari sebelum acara, tercatat 20 ekor sapi, 50 kambing, 200 ekor ayam kampung, 15 ton beras, dan lima truk gula, telur, sayur mayur, dan buah-buahan. Semuanya sampai di Sukorejo.

Baca Juga :  Pengertian Capital (Modal)

Acara yang melayani 1.500 orang ini memakan rata-rata lima hingga enam kwintal beras, 130 hingga 300 ayam, lima kambing dan sapi, satu hingga tiga truk sayur dan kelapa, serta kayu bakar yang tak terhitung jumlahnya, keduanya dikirimkan. dengan truk atau di antara Anda sendiri sebagai kelompok dengan sepeda ontel. Para juru masak tidak dibayar, mereka mengharapkan berkah dari kiai.

Karena tingginya minat masyarakat untuk berdonasi, panitia menolak sapi dan kambing karena tidak memiliki tempat penampungan. Namun mereka tidak bisa berhenti berpikir, hewan-hewan tersebut kemudian mereka bawa kembali dalam bentuk daging.

Bantuan tidak hanya datang dari warga kaya. Ada seorang warga yang hanya memiliki dua ekor sapi, seekor yang satu lagi bunting. Karena untuk acara keagamaan dia menyumbangkan salah satunya untuk Kiai As’ad.

Anehnya, beberapa hari kemudian seorang “tamu asing” mendatangi warga tersebut. Padahal saat memberikan sapi tersebut, selain ikhlas, warga juga tidak mencatatkan namanya. Lalu, siapa yang memberi tahu tamu asing itu? Lucunya, tamu asing tersebut bersikeras untuk memberikan sejumlah uang beberapa kali lipat dari harga seekor sapi.

Dengan tulus berdonasi kepada kiai, uang itu dengan tegas ditolak. Namun, tamu asing tersebut bersikeras tidak ingin keluar rumah jika tetap ditolak. Akhirnya, dia terpaksa menerima uang itu juga.

Siapa orang asing itu? Manusia atau makhluk alam lainnya? Allah Maha Tahu.

4. Mecah Diri

Suatu hari, Kiai Mujib diundang oleh Kiai As’ad untuk menghadiri delapan acara walimah haji di luar kota. Kiai Mujib baru merasakan keajaiban yang dialaminya setelah kembali ke Sukorejo. Mereka berangkat pukul 20.30, dan pukul 22.30 kembali ke Sukorejo.

Padahal, perjalanan pulang pergi saja memakan waktu dua jam, padahal mereka harus mengunjungi delapan event yang masing-masing berjauhan. Belum lagi saat Kiai As’ad memberikan ceramah dan jamuan makan yang tentunya memakan waktu lama.

Ini ajaib. Bagaimana mungkin perjalanan yang seharusnya memakan waktu dua jam ditambah semua kejadian yang berjauhan dan memakan waktu berjam-jam bisa dilakukan hanya dalam dua jam? Kiai Mujib menyampaikan kebingungannya kepada pengemudi kiai, H. Abdul Aziz.

“Ya … ya, kenapa begitu?” katanya, berulang kali melihat arlojinya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa sekarang baru pukul sepuluh.

Seminggu kemudian, di Sukorejo, Haji Aziz mendapat informasi tentang keributan yang hampir terjadi di antara pemilik kedelapan acara walimah karena masing-masing ngotot didatangi kiai secara bersamaan. Akhirnya mereka berdua takjub, karena masing-masing punya bukti berupa foto saat kiai berada di rumah masing-masing.

Kejadian seperti itu pernah dialami oleh Kiai As’ad sendiri semasa muda. Ia heran, ada kiai yang menjadi imam salat Jumat di tiga masjid sekaligus. Menurut cerita, Kiai As’ad melakukan salat Jumat bersama Imam Kiai Asadullah di Masjid Besuki.

Bupati Situbondo yang mendengar hal tersebut membantahnya, dan bersikeras agar Kiai Asadullah hari itu memimpin salat Jum’at di Situbondo, bahkan Bupati mengaku berdiri tepat di belakangnya. Pemimpin Asembagus yang kebetulan mendengar perselisihan itu malah menjawab bahwa Asadullah adalah pemuka salat di daerahnya.

Hal tersebut mengingatkan Kiai As’ad pada dawuh (perintah) Habib Hasan Musawa bahwa Kiai Asadullah telah mencapai keadaan fana fi adz dzat, bisa tiga atau bahkan sepuluh sekaligus. Ilmu yang sama di kemudian hari juga dimiliki oleh Kiai As’ad.

5. Pasir Jadi Dentuman Senjata

Saat melancarkan gerilya, beberapa pejuang tampak membawa pasir. Konon pasir itu merupakan pemberian dari Kiai As’ad kepada para pendekar. Pasir kemudian ditaburkan di atas kacang hijau di dekat markas tentara Belanda atau di jalan yang akan dilalui banyak tentara Belanda.

Aneh, keajaiban terjadi. Puluhan tentara Belanda yang bersenjata lengkap tiba-tiba lari ketakutan sambil meninggalkan senjatanya. Mungkin mereka mengira suara pasir adalah suara senjata api. Padahal, saat itu para pejuang tidak membawa senjata api. Seolah mendapat rejeki nomplok, para pejuang tampak berpesta pora dan satu persatu mengambil senjata peninggalan Belanda.

Pada kesempatan lain, sebanyak 50 anggota Laskar Sabilillah meminta jaza ‘kepada Kiai As’ad ke Sukorejo sebagai bekal untuk melawan Belanda. Hal pertama yang ditanyakan oleh Kiai As’ad adalah tekad mereka untuk bertarung. “Apakah kamu benar-benar ingin bertarung?” tanya Kiai As’ad.

“Kami memang mau berperang, Kiai, asal diberi jimat,” jawab ketua kelompok.

“Oh, itu mudah,” jawab Kiai As’ad. “Masuk ke dalam punuk, mungkin punuk (Anda pergi berperang dengan utuh, pulang dengan utuh).”

Kemudian Kiai As’ad mengambil air dan menyuruh mereka meminumnya sambil membaca sholawat. Setelah itu Kiai As’ad berkata, “Jangan melihat ke kiri dan ke kanan. Teruskan, jangan mundur. Jika kamu terus maju dan ditembak mati, kamu akan syahid dan masuk surga. Tetapi, jika kamu mundur dan tertembak, kamu akan mati dalam keadaan tidak percaya! “

Wafatnya KH. As’ad Syamsul Arifin

Beliau wafat pada usia 93 tahun pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur. Jabatan terakhir di PBNU adalah Pengurus NU (Musytasar).

Penutup

Demikianlah biografi lengkap tentang KH Biografi As’ad Syamsul. Semoga informasi Biografi As’ad Syamsul ini bisa bermanfaat untuk kalian semua. Terimakasih sudah mengunjungi situs ini.