Contoh Rasio Likuiditas dalam Akuntansi

Posted on
Contoh Rasio Likuiditas dalam Akuntansi

Menurut para ahli, likuiditas merupakan sebuah kapabilitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban berupa utang yang ditanggungnya. Oleh karena itu, rasio likuiditas yang baik dapat dijadikan sebagai alat analisis bagi para investor maupun pihak kreditur seperti bank. Nah, untuk mengetahui seperti apa contoh rasio likuiditas dan juga jenis-jenisnya, yuk simak rinciannya berikut.

Dalam akuntansi, kita mengenal istilah rasio likuiditas dan solvabilitas. Nah, untuk analisis rasio likuiditas sendiri, nantinya akan tercatat dalam jurnal rasio likuiditas. Jurnal tersebut berisi serangkaian catatan terkait apa posisi keuangan yang berkaitan dengan kewajiban utang jangka pendek maupun nilai aktiva lancar suatu perusahaan.

Pengertian Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah perbandingkan antara aktiva lancar terhadap kewajiban lancar. Aktiva lancar atau aset lancar adalah segala kekayaan yang dimiliki oleh  perusahaan dengan masa kurang dari satu tahun seperti halnya piutang, kas, atau lainnya yang sewaktu-waktu dapat dijadikan uang tunai.

Sementara kewajiban lancar yaitu berupa kewajiban yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk dibayar dalam jangka pendek (kurang dari satu tahun). Contohnya utang gaji, utang bank jangka pendek, utang bunga, utang pajak, utang dagang, hingga pendapatan di terima di muka.

Nah, nilai dari rasio likuiditas ini nantinya dapat dijadikan sebagai alat analisis yang digunakan oleh perusahaan maupun bagi pihak eksternal untuk memahami indikator performa perusahaan akan situasi keuangan.

Dengan begitu, tim manajemen perusahaan bisa lebih serius meningkatkan performa manajemennya sesuai dengan indikator tersebut. Lalu, bagi pihak eksternal mereka bisa menilai apakah perusahaan tersebut sedang memiliki masalah keuangan atau tidak sehingga mereka tidak salah dalam menerapkan investasinya.

Baca Juga :  Laporan Laba Rugi: Pengertian, Fungsi, & Jenisnya

Beberapa contoh rasio likuiditas yang sering dijadikan sebagai acuan bagi pihak eksternal yaitu dalam hal pembayaran pajak, pembayaran gaji karyawan, pembayaran tagihan listrik, pembayaran tagihan PDAM, pembayaran biaya internet dan telepon, serta lainnya.

Rasio yang ditampilkan akan menunjukkan seberapa bagus performa perusahaan terkait keuangan. Dengan begitu, rasio tersebut dapat dijadikan sebagai alat pembanding terhadap perusahaan lain atau sebagai alat analisis untuk mencapai target keuangan yang telah ditentukan.

Jenis-Jenis Rasio Likuiditas

Ada beragam jenis rasio likuiditas yang perlu diketahui oleh kalian yang sedang belajar terkait akuntansi, berikut rinciannya:

1. Rasio Kas

Rasio kas adalah perbandingan antara arus kas dengan total kewajiban perusahaan yang harus dibayar. Merupakan jenis rasio terpenting yang digunakan untuk mengetahui akan potensi bahaya mengancam keuangan perusahaan.

Salah satu hal yang menyebabkan indikator rasio kas jelek adalah karena perputaran kas yang rendah, hal ini juga menjadi salah satu penyebab teratas akan kegagalan operasional bisnis. Apabila rasio kas menunjukkan nilai di bawah 1, maka artinya perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya.

Rasio Kas = Arus Kas (Cashflow) : Total Kewajiban
Rasio Kas= (Pendapatan Bersih + Penurunan Nilai) : Total Kewajiban

2. Rasio Lancar

Disebut juga sebagai current ratio atau dalam akuntansi kadang disebut sebagai “rasio modal kerja”, rasio saat ini adalah sebuah perbandingan antara aset lancar dengan kewajiban lancar perusahaan. Secara sepintas, rasio ini mirip dengan rasio kas cepat, namun sejatinya terdapat perbedaan mendasar.

Dalam rasio saat ini, persediaan dimasukkan ke dalam aset lancar. Tipe rasio satu ini lebih sering digunakan oleh perusahaan untuk menganalisis performa keuangannya. Berikut rumus current ratio yang perlu kalian tahu:

Rasio Lancar: Aktiva Lancar : Kewajiban Lancar

3. Rasio Cepat

Rasio cepat atau disebut sebagai acid test ratio (quick ratio) adalah sebuh perbandingan antara aktiva lancar terhadap kewajiban utang jangka pendek (liabilitas lancar). Dalam rasio ini, persediaan atau inventaris tidak dimasukkan ke dalamnya, tidak seperti current ratio.

Baca Juga :  Pengertian SOP (Standard Operating Procedure)

Aktiva lancar yang bisa dimasukkan yaitu berupa kas, piutang, surat berharga, uang tunai, dan investasi yang likuid. Sementara liabilitas lancarnya meliputi pinjaman jangka pandnek, utang pajak penghasilan, biaya yang masih harus dibayar, utang dagang, dan lainnya.

Rasio Cepat = (Kas + Surat Berharga + Piutang) : Kewajiban Lancar

4. Margin Laba Bersih

Disebut juga sebagai net profit margin, rasio satu ini adalah sebuah perbandingan antara sisa pendapatan yang dimiliki perusahaan dengan pendapatan total. Nah, untuk pengeluaran total ini meliputi biaya produksi, bunga, pajak, dan sebagainya yang dikeluarkan dalam rentang waktu tertentu.

Sementara untuk pendapatan total meliputi semua hal yang menjadi pemasukan perusahaan. Mulai dari keuntungan dagang / penjualan, bunga investasi, laba, piutang dagang, dan sebagainya. Berikut ini rumusnya yang perlu kalian ketahui:

Margin Laba Bersih = (Pendapatan Total- Pengeluaran Total) : Pendapatan Total

5. Days Sales Outstanding Ratio

Days Sales Outstanding (DSO) merupakan sebuah rasio yang berisi nilai akan jumlah waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan dalam hal penerimaan pembayaran setelah transaksi penjualan barang atau jasa selesai. Semakin cepat penerimaan pembayarannya, tentunya semakin menguntungkan bagi pihak perusahaan.

Apabila rasio DSO menunjukkan nilai yang tinggi, maka berarti perusahaan membutuhkan waktu yang lama untuk menerima pembayaran setelah penjualan selesai. Namun, bila nilainya rendah, maka waktu yang dibutuhkan lebih sedikit. Berikut rumusnya:

DSO Ratio: Rata-Rata Piutang :  Pendapatan per Hari

6. Gross Profit on Net Sales

Dalam akuntansi bahasa Indonesia, Gross Profit on Net Sales sering disebut sebagai “Laba Kotor pada Penjualan Bersih”. Merupakan sebuah rasio yang dihitung dari pembagian antara penjualan bersih yang dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan penjualan bersih.

Baca Juga :  Pengertian Akuntansi - Tujuan, Fungsi, & Manfaat Akuntansi

Dengan adanya rasio ini, maka kita bisa menghitung mark up rata-rata harga barang untuk menghasilkan keuntungan sekaligus menutup biaya pengeluaran. Jika laba kotor pada penjualan bersihnya lebih rendah dibandingkan margin rata-rata, maka HPP terlalu rendah.

Gross Profit on Net Sales = (Penjualan Bersih – HPP): Penjualan Bersih

7. Rasio Cakupan Bunga

Disebut juga sebagai times interest ratio, rasio cakupan bunga adalah sebuah perbandingan antara laba pendapatan perusahaan sebelum beban bunga di masa depan dan pajak dengan nilai bunga yang didapatkan di masa depan.

Dalam beberapa kasus, rasio ini masuk ke dalam rasio solvabilitas karena dapat dipakai untuk mengidentifikasi ketersediaan dana dalam jangka panjang untuk tipe bunga berkelanjutan. Ini dia rumusnya:

Rasio Cakupan Bunga = Laba Sebelum Pajak dan Beban Bunga : Bunga

Contoh Rasio Likuiditas dalam Akuntansi

Contoh Rasio Likuiditas

Berikut contoh soal rasio likuiditas dan jawabannya yang nantinya bisa kalian jadikan sebagai sarana pembelajaran.

Sebuah perusahaan bernama PT ABC memiliki Rp 10 juta kewajiban lancar. Selain itu, mereka memiliki 5 juta tunai, 2 juta dalam piutang, serta 3 juta dalam surat berharga. Lalu berapakah rasio likuiditasnya?

Jawaban:

Dalam kasus soal di atas, kita bisa menggunakan rumus rasio likuiditas tipe quick ratio dengan perhitungan sebagai berikut:

Rasio Cepat = (Kas + Surat Berharga + Piutang) : Kewajiban Lancar

= (5.000.000 + 3.000.000 + 2.000.000) : 10.000.000

= 10.000.000:10.000.000

= 1

Dengan rasio sebesar 1, maka aset lancar perusahaan PT ABC tersebut cukup dilikuidasi menjadi uang tunai untuk melunasi kewajiban lancarnya.

Demikian rincian informasi yang dapat kami berikan terkait contoh rasio likuiditas dalam akuntansi, semoga bermanfaat!