Pengertian Persediaan

Posted on

GuruAkuntansi.co.id Kali ini akan membahas tentang pengertian persediaan menurut para ahli terbaru beserta jenis-jenis, dan juga metode-metode untuk menentukan harga pokok persediaan. Mari kita simak materi di bawah ini:

Pengertian Menurut Para Ahli

Secara umum, persediaan merupakan barang dagang utama dalam perusahaan dagang. Persediaan termasuk dalam golongan aset lancar perusahaan yang memiliki peran penting dalam menghasilkan laba perusahaan.

Dalam perusahaan dagang, persediaan merupakan barang-barang yang diperoleh atau dibeli untuk dijual kembali tanpa mengubah barang itu sendiri.

Menurut Ristono (2009:2)

Persediaan adalah barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa yang akan datang.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2014:PSAK No.14)

Persediaan adalah aset:

  1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
  2. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan
  3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Menurut Sartono (2010:443)

Persediaan umumnya merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan

Menurut Alexandri (2009:135)

Persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam proses produksi.

Jenis-jenis Persediaan

Pengertian Persediaan

Berikut ini beberapa jenis persediaan menurut para ahli:

Menurut Render dan Heizer (2005)

Berdasarkan proses manufakturnya persediaan dibagi menjadi empat jenis yaitu:

  1. Persediaan bahan baku mentah (raw material inventory) – Adalah persediaan yang dibeli namun tidak diproses. Persediaan ini dapat digunakan untuk memisahkan para pemasok dari proses produksi.
  2. Persediaan barang setengah jadi (working in process inventory) – Adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami perubahan tetapi belum selesai. Adanya work in process disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah produk atau disebut dengan siklus waktu. Mengurangi siklus waktu juga berarti mengurangi persediaan.
  3. Persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi (maintance, repair, operating, MRO) – Pemeliharaan, perbaikan, dan operasi digunakan untuk menjaga agar permesinan dan proses produksi tetap produktif. MRO tetap ada karena kebutuhan dan waktu pemeliharaan dan perbaikan beberapa peralatan tidak diketahui.
  4. Persediaan barang jadi (finished goods inventory) – Adalah produk yang sudah selesai dan menunggu pengiriman. Barang jadi bisa saja disimpan karena permintaan pelanggan dimasa depan tidak diketahui.

Menurut Ristono (2009)

Berdasarkan tujuannya persediaan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Persediaan pengaman (safety stock) – Adalah persediaan yang dilakukan untuk mengantisipasi unsur ketidakpastian permintaan dan penyediaan. Apabila persediaan pengaman tidak mampu mengantisipasi ketidakpastian tersebut, maka akan terjadi kekurangan persediaan / stockout.
  2. Persediaan antisipasi – atau disebut sebagai stabilization stock merupakan persediaan yang dilakukan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang sudah dapat diperkirakan sebelumnya.
  3. Persediaan dalam pengiriman (transit stock) – atau disebut work-in process stock adalah persediaan yang masi dalam pengiriman. Persediaan ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu: 1) Eksternal transit stock adalah persediaan yang masih berada dalam transportasi. 2) Internal transit stock adalah persediaan yang masih menunggu untuk diproses atau menunggu sebelum dipindahkan.
Baca Juga :  Pengertian Manajemen Operasional

Metode Penentuan Harga Pokok Persediaan

Setiap akhir periode akuntansi, total biaya persediaan harus dialokasikan ke persediaan yang masih ada untuk dilaporkan di neraca sebagai aktiva

dan ke persediaan yang terjual selama periode tersebut untuk dimasukan dalam laporan laba rugi sebagai beban harga pokok penjualan.

Berikut metode penilaian persediaan menurut Baridwan (2010:158) :

Metode FIFO (First In Firs Out)

Pada metode ini barang-barang yang pertama kali dibeli atau diproduksi akan dianggap sebagai yang pertama kali dijual atau dipakai.

Barang-barang yang akan dijual atau dipakai diperhitungkan harga pokoknya berdasarkan harga pokok per satuan yang terjadi paling awal, dengan memperhatikan jumlah kuantitas barangnya.

Sedangkan barang-barang yang masih dalam persediaan dinilai berdasarkan harga pokok per satuan yang terjadi paling akhir.

Tujuan dari FIFO ini adalah menyamai arus fisik barang. Jika arus fisik barang secara actual adalah yang pertama masuk, yang pertama keluar,

maka metode FIFO tidak memungkinkan untuk memanipulasi laba karena perushaan tidak bebas memilih item-item biaya tertentuk untuk dimasukkan ke dalam beban.

Metode LIFO (Last In First Out)

Metode ini kebalikan dari metode FIFO, yang mana harga pokok per satuan dari barang-barang yang terakhir dibeli atau diproduksi justru dibebankan kepada barang-barang yang pertama kali dijual atau dipakai.

Maka hasil penjualan yang sekarang dipertemukan dengan harga pokok persatuan barang yang berlaku pada saat yang sama di dalam proses penentuan laba rugi periodiknya.

Sebaliknya terhadap barang-barang yang ada dalam persediaan akhir akan dinilai berdasarkan harga pokok per satuan yang berbeda untuk berbagai jumlah barang yang ada dalam persediaan.

Jika LIFO telah digunakan dalam waktu yang lama maka perbedaan antara nilai persediaan saat ini dengan biaya LIFO yang dilaporkan dapat menjadi semakin besar.

Baca Juga :  Pengertian Biaya Tenaga Kerja

Metode Biaya Rata-rata (Average Cost Method)

Pada metode ini barang-barang yang baik yang telah dijual kembali maupun yang masih ada dalam persediaan, dinilai atas dasar harga pokok rata-rata yang berlaku dalam peridode akuntansi yang bersangkutan.

Pemakian metode ini tergantung pada sistem pencatatan terhadap persediaan, dalam hal ini sistem pencatatan yang dipakai adalah sistem fisik,

harga pokok rata-rata dihitung dari jumlah kuantitas dan harga pokok barang yang tersedia untuk dijual dalam tahun buku yang bersangkutan.

Di dalam sistem perpectual, harga pokok rata-rata per satuan dihitung setiap kali terjadi pembelian barang dengan harga berbeda dari harga pokok rata-rata sebelumnya.

Metode Harga Eceran (Retail Inventory Method)

Metode ini biasa digunakan dalam toko-toko yang menjual bermacam-macam barang secara eceran.

Metode harga ecer ini memungkinkan dihitungnya jumlah persediaan akhir tanpa mengadakan perhitungan fisik. Metode ini bisa digunakan untuk :

  • Menaksir jumlah persediaan barang untuk penyusunan laporan keuangan jangka pendek.
  • Mempercepat perhitungan fisik, karena jumlah yang dihitung dicantumkan dengan harga jual, maka untuk mengubahnya ke harga pokok ialah dengan megalikannya dengan persentase harga pokok tanpa perlu memperhatikan masing-masing fakturnya.
  • Mutasi barang dapat diawasi dengan membandingkan hasil perhitungan fisik yang dinilai dengan harga jual dengan hasil perhitungan dari metode harga eceran.

Metode Nilai Penjualan Relatif

Metodi ini dipakai untuk mengalokasikan biaya bersama kepada masing-masing produk yang diproduksi atau dibeli.

Masalah alokasi ini dapat timbul dalam usaha dagang maupun perusahaan manufaktur. Dalam perusahaan dagang apabila dibeli beberapa barang,

pembagian biaya bersama dilakukan berdasarkan nilai penjualan relaif dari masing-masing barang tersebut.

Metode Biaya Variabel

Pada metode ini harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan hanya dibebani dengan biaya produksi yang variabel yaitu bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung variabel.

Biaya produksi tidak langsung yang tetap akah dibebankan sebagai biaya dalam periode yang bersangkutan dan tidak ditunda dalam persediaan.

Metode Laba Kotor

Menentukan jumlah persediaan dengan metode laba bruto, biasanya dilakukan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut:

  • Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang diperlukan untuk menyusun laporan-laporan jangka pendek, dimana perhitungan fisik tidak mungkin dijalankan.
  • Untuk menaksir jumlah persediaan barang yang rusak karena terbakar dan menentukan jumlah barang sebelum terjadinya kebakaran.
  • Untuk mengecek jumlah persediaan yang dihitung dengan cara-cara lain, disebut test laba bruto.
  • Untuk menyusun taksiran harga pokok penjualan, persediaan akhir dan laba bruto. Taksiran ini dihitung sesudah dibuat budget penjualan.
Baca Juga :  Pengertian Sekretaris

Dalam laba bruto, pertama kali harus ditentukan besarnya persentase laba bruto. Persentase ini bisa didasarkan pada penjualan atau harga pokok penjualan.

Sesudah persentase laba bruto diketahui, kemudian dikalikan pada penjualan dan hasilnya dikurangkan pada

penjualan sehingga dapat ditentukan jumlah harga pokok penjualan, selisih antara harga pokok penjualan dengan barang-barang yang tersedia untuk dijual merupakan persediaan akhir.

Identifikasi Khusus

Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Maka perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan harga pokok

dan untuk masing-masing kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-masing harga pokok barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir.

Metode ini dapat digunakan dalam perusahaan-perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan cara fisik ataupun cara buku.

Namun cara ini menimbulkan banyak pekerjaan tambahan atau gudang yang luas maka jarang digunakan.

Untuk mengatasinya dapat digunakan metode-metode yang pada dasarnya arus barang tidak sama dengan arus biayanya.

Persediaan Besi/Minimum

Dalam metode ini dipakai anggapan bahwa perusahaan memerlukan suatu jumlah persediaan minimum (besi) untuk menjaga kontinuitas usahanya.

Persediaan ini dianggap sebagai suatu elemen yang harus selalu tetap, sehingga dinilai dengan harga pokok yang tetap.

Biaya Standar (Standard Cost)

Dalam perusahaan yang memakai sistem biaya standar, persediaan barang dinial dengan biaya standar, yaitu biaya=biaya yang seharusnya terjadi.

Biaya standar ini ditentukan dimuka sebelum proses dimulai. Untuk bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung.

Apabila terdapat perbedaan antara biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya standarnya, maka perbedaan itu dicatatan sebagai selisih.

Harga Beli Terakhir

Pada metodi ini persediaan barang yang ada pada akhir periode dinilai dengan harga pokok pembelian terakhir tanpa mempertimbangkan apakah jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang di beli terakhir.

Harga Pokok atau Harga Pasar yang Lebih Rendah

Dalam metode ini persediaan dicantumkan dengan nilai yang lebih rendah antara harga pokok atau harga pasar.

Agar mencapai tujuan maka dalam menghitung persentasi harga pokok tidak diperhitungkan penurunan harga jual atau mengurangi persediaan seperti penurunan harga,

potongan untuk pegawai, barang-barang rusak dan lain-lain akan diperlakukan menambah jumlah penjualan.

Dasar harga pokok atau harga pasar yang lebih rendah dapat diterapkan dalam metode FIFO maupun rata-rata.

Baca juga :

Demikian pembahasan tentang pengertian persediaan menurut para ahli terbaru beserta jenis-jenis, dan juga metode-metode untuk menentukan harga pokok persediaan. Semoga bermanfaat bagi kalian semua.