Prasasti Manjusri

Posted on

Prasasti Manjusri – Candi ini awalnya dibangun atas perintah Raja Kertanagara sebagai menghormati terhadap ayahnya, yang bernama Raja Wisnuwardhana beliau telah meninggal pada 1268.

Candi Tumpang atau Candi Jago, Candi Jinalaya adalah sebuah tempat asal dari patung Manjusri ini. Karakter Manjusri telah dianggap sebagai sebuah perwujudan kebijaksanaan dalam transenden.

Dalam pembahasan kali ini, kami akan menjelaskan secara jelas dan singkat mengenai Prasasti Manjusri. Yuukk.. Simak ulasan selengkapnya sebagai berikut.

Apa yang dimaksud dengan Prasasti Manjusri ?

Pengertian Prasasti Manjusri adalah sebuah naskah yang diukir di belakang patung Manjusri dari tahun 1343 dan awalnya disimpan di Candi Jago yakni sekarang berada di Museum Nasional dengan nomor inventaris.

Candi Jago atau Candi Tumpang atau Candi Jinalaya adalah sebuah tempat asal patung Manjusri ini. Kuil ini pada awalnya dibangun atas perintah Raja Kertanagara untuk menghormati seorang ayahnya yakni yang bernama Raja Wisnuwardhana, yang meninggal pada tahun 1268.

Prasasti ini telah diukir dengan sebuah aksara Jawa kuno dan Sanskerta. Dalam sebuah prasasti itu terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian pertama tentang Bodhisattva dengan 3 garis dan bagian kedua, yang diukir di belakang sebuah patung dengan 7 garis. Isi prasasti ini berkaitan dengan penempatan patung Mañjuśrī oleh Adityawarman di Jina di kuil tabut 1265.

Asal Usul

Berdasarkan dalam sebuah interpretasi prasasti oleh Bosch, ada kemungkinan bahwa Adityawarman membangun sebuah candi-candi tambahan di bidang Candi Jago atau bahwa candi yang dibangun 1280 runtuh dan digantikan oleh kuil yang baru.

Tidak ada sisa-sisa sebuah bangunan besar di sebelah Kuil Jago saat ini, sehingga penjelasan kedua lebih masuk akal. Ini juga didukung oleh gaya relief dan ukiran candi, yang, menurut analisis Stutterheim, membuktikan bahwa candi sampai sekarang lebih baru dari pada abad ke-13.

Baca Juga :  Biografi Cut Nyak Dien

Karakter dalam peninggalan Manjusri ini, yakni telah dianggap sebagai adanya sebuah perwujudan dalam kebijaksanaan berbentuk transenden. Dia telah duduk di atas takhta teratai yang begitu berkilauan, di tangan kirinya dia memegang sebuah buku (naskah daun palem), di tangan kanannya sebuah pedang (untuk melawan sebuah kegelapan), dan di dadanya seutas tali dibungkus. Dia juga dikelilingi oleh empat dewa, yang semuanya memiliki replika yang bermakna.

Prasasti Manjusri

Dinding tubuh dalam sebuah candi yakni dapat membagi bangunan menjadi 13 bagian, yaitu bangunan pusat, empat lorong, dan empat pengamat. Setiap penampil harus memiliki pintu luar dan pintu penghubung ke koridor, sedangkan koridor di kedua sisi memiliki sebuah pintu penghubung dengan koridor.

Prasasti-Manjusri

Terutama di koridor timur ada pintu penghubung ke ruang tengah. Di ruang tengah adalah asana, yang dudukannya melekat pada dinding barat ruangan. Diduga, asana dipenuhi dengan patung Manjus setinggi sekitar 360 cm.

Sementara itu diasumsikan bahwa setiap arca yakni telah berisi enam patung dalam enam relung, masing-masing tiga relung, tiga relung berbaris di dinding bagian kanan dan kiri.

Manjusri merupakan seorang Bodhisattva yang biasanya bermanifestasi untuk seorang pemuda yang dapat memegang pedang terhunus di satu tangan dan sebuah buku di tangan lainnya. Pedang itu dimaksudkan sebagai alat sebagai menghilangkan adanya suatu keingintahuan dan kepalsuan.

Sementara buku itu berisi ajaran tentang sepuluh praktik utama, cita-cita Bodhisattva disebut Paramita. Secara umum, sesuai dengan bentuk patung Manjusri Singosari, tetapi ada juga perbedaan.

Teks Prasasti

Berikut merupakan sebuah teks yang berada dalam prasasti tersebut, diantaranya ialah sebagai berikut:

“Di kerajaan yang dapat diperintah oleh sorang raja Raja Rajapatni, Adityawarman, yang berasal dari keluarganya, yang murni dan memiliki peran antara menteri saya Wreddaraja, telah membangun sebuah kuil ajaib di Jawa di Jinalayapura, yang ingin memimpin ibunya, dan ayahnya. kenalan dengan sukacita Nirwana”.

Candi ini awalnya dibangun atas perintah Raja Kertanagara sebagai menghormati terhadap ayahnya, beliau telah meninggal pada 1268. Manjusri merupakan seorang Bodhisattva yang biasanya bermanifestasi untuk seorang pemuda yang dapat memegang pedang terhunus .

Baca Juga :  Kejayaan Kerajaan Demak

Baca Juga :

Demikian pembahasan kali ini yang dapat kami sampaikan secara jelas dan singkat yakni mengenai Prasasti Manjusri. Semoga ulasan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda semua.