Sejarah Kitab Smaradahana

Posted on

Sejarah Kitab Smaradahana – Merupakan suatu karya sastra Jawa kuno dalam sebuah bentuk kakawin, yang telah menceritakan dengan sebuah kisah pembakaran batara kamajaya. Termasuk dalam sastra Jawa, yang sudah cukup tua.

Mpu Dharmaja merupakan seorang penyair yang telah menulis buku berjudul Smaradahana. Dalam buku Smaradahana, nama dalam sebuah Raja Kediri Prabu Kameswara adalah inkarnasi ketiga Dewa Wisnu.

Lalu, bagaimanakah Sejarah Kitab Smaradahana? Dalam pembahasan kali ini, kami akan menjelaskan mengenai kitab Smaradahana secara lengkap dan jelas. Untuk ulasan selanjutnya, yuukk… Simak sebagai berikut.

Apa itu Kitab Smaradahana ?

Kitab Smaradahana merupakan sebuah sejarah dalam kerajaan di Indonesia sebagian besar ditulis dalam bentuk buku atau kitab. Salah satu buku yang banyak dibahas adalah Smaradahana.

Dalam sebuah kitab yang satu ini berisi sastra Jawa, yang sudah cukup tua. Mpu Dharmaja adalah seorang penyair yang menulis buku berjudul Smaradahana. Dalam ceritanya, buku ini yakni telah menceritakan tentang dua karakter berjuluk Dewa Kama dan istrinya yang bernama Dewi Ratih.

Mungkin kalian tidak tahu buku ini dengan baik, alasannya ialah dengan namanya agak sulit diucapkan. Namun, bagi para penulis, dalam kita tersebut yakni merupakan sebagai kita pendamping bagi sejarah kerajaan di wilayah Jawa kuno.

Sejarah-Kitab-Smaradahana

Fakta Kitab Smaradahana

Terdapat beberapa fakta dalam kitab smaradahana, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Arti Panah Pancawisesa

Dalam kisah buku Smaradahana, Dewa Siwa terpukul dalam sebuah pukulan panah yang disebut panah Pancawisesa. Batara Kamajaya merilis panah ini sehingga dewa Siwa yang dipenjara akan kembali ke surga.

Baca Juga :  Sejarah Sukarni Kartodiwirjo

Fakta begitu sangat menarik dari panah Pancawisesa mempunyai sebuah makna. Arti pertama merupakan bisa mendengar suara-suara indah. Arti kedua merupakan mempunyai sebuah keinginan sebagai makan.

Makna ketiga merupakan sebuah indera perasa dipertahankan, sehingga bisa disentuh secara sensitif. Makna keempat mengacu pada indera penciuman agar dapat mencium. Dan makna kelima mengacu pada indra penglihatan untuk melihat lingkungan.

2. Kehidupan Kembali

Fakta-fakta berikut berhubungan dengan kehidupan. Menurut cerita dari buku Smaradahana, dalam sebuah kehidupan dalam dua orang, Dewi Ratih dan Dewa Kama, dapat dihidupkan dengan kembali.

Fakta tersebut yakni masih terkait dengan fakta panah Pancawisesa milik dewa Kama. Dewa Siwa mampu dapat mematahkan dalam sebuah potongan Pancawisesa dan membiarkan dewa Kama mati. Dan kejadian itu tidak membungkam istri dewa Kama, Dewi Ratih, dan ikut serta dalam kematian.

Kedua pasangan itu, tidak dapat diselamatkan. Namun menurut kisah buku Smaradahana, para dewa meminta dewa Kama dan dewi untuk memaafkan Dewa Siwa. Dan untuk mengabulkan permohonan pengampunan, ada kehidupan yang menghidupkan kembali sosok dewi Sinta dan dewa Kama.

3. Anak Dewa Siwa

Fakta-fakta berikut lebih merupakan hasil dari tindakan Dewa Siwa. Seolah apa yang telah dilakukan Dewa Siwa kepada dewa Kama dan dewi Ratih akan dihargai. Faktanya adalah, Dewa Siwa mempunyai seorang putra yang tidak tampak sempurna secara fisik.

Putra dewa Siwa dan dewi Uma memiliki tubuh manusia, tetapi kepala gajah dengan belalai. Tetapi fakta bahwa karakter putra Dewa Siwa terjadi berbanding terbalik dengan dewa Siwa.

Ganesha, nama putra Dewa Siwa, mempunyai hati yang sangat begitu mulia. Fakta yang menarik dari sebuah kitab atau buku Smaradahana merupakan bahwa dalam Ganesha dapat mengalahkan musuh misalnya pada raksasa yang pergi ke surga.

Baca Juga :  Sejarah Situ Gintung

Baca Juga :

Demikian pembahasan yang telah kami sampaikan secara jelas dan lengkap mengenai Sejarah Kitab Smaradahana. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat.