Sejarah Sultan Hasanuddin

Posted on

Sejarah Sultan Hasanuddin – Yakni telah wafat pada tanggal 12 Juni 1670 di Gowa, Sulawesi Selatan. Pada usia 39, ia merupakan seorang Raja ke-16 dalam Gowa dan termasuk dalam Pahlawan Nasional Indonesia.

Sultan Hasanuddin, ialah seorang putra dari Raja Gowa ke-15, yakni yang bernama I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung, dan Sultan Muhammad Said.

Dalam pembahasan kali ini, kami akan menjelaskan mengenai Silsilah Sultan Hasanuddin secara lengka mudah untuk dimengerti. Untuk ulasan selanjutnya, mari simak penjelasannya sebagai berikut.

Sejarah Sultan Hasanuddin ?

Raja Gowa ke-16 dan merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia, yakni telah wafat pada tanggal 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun di Gowa, Sulawesi Selatan. Beliau lahir dengan sebuah nama yakni Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape dan telah dipanggil yakni dengan nama Kesultanan Qadi Islam Gowa, yaitu Ahmad Bafaqih Al-Aidid dan Syekh Sayyid Jalaludin.

Sejarah-Sultan-Hasanuddin

Merupakan seorang Murshid dari daerah Tarar Baharunnur Baalwy, Sulawesi Selatan, yang juga gurunya, yakni termasuk seorang guru Tarekat dari Sheikh Yusuf Al-Makassari. Setelah naik tahta, dia ditangkap dengan Sultan Hasanuddin. Setelah kematiannya, dan ia ditahan dengan Tumenanga Ri Balla Pangkana.

Karena atas keberaniannya beliau dipanggil oleh Belanda yakni De Haantjes van Het Osten, yang berarti ayam jantan dari wilayah Timur. Beliau telah dimakamkan di wilayah Katangka, letaknya di Kabupaten Gowa, dan beliau telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan terhadap Presiden yakni tepatnya pada 6 November 1973.

Sultan Hasanuddin, ialah seorang putra dari sebuah Raja Gowa ke-15, yakni, Sultan Muhammad Said dan I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung. Sultan Hasanuddin telah memerintah pada sebuah kerajaan Gowa dari tahun 1653 hingga tahun 1669. Kerajaan Gowa adalah sebuah kerajaan yang begitu besar di Indonesia timur yang dapat mengendalikan rute dalam sebuah perdagangan.

Baca Juga :  Perang Hitler

Latar Belakang

Dalam pertengahan pada abad ke-17, perusahaan Belanda (VOC) mencoba memonopoli ialah adanya sebuah perdagangan dalam rempah-rempah di wilayah Maluku setelah berhasil mengandalkan dalam orang-orang Portugis dan Spanyol.

Perusahaan dalam terhadap Belanda memaksa penduduk pedesaan untuk menjual dengan harga yang ditetapkan oleh mereka, dan perusahaan dapat memerintahkan terhadap pemotongan pala dan cengkeh di beberapa tempat sehingga dalam sebuah rempah-rempah tidak menjadi terlalu banyak. Karena itu, Sultan Hasanuddin dengan tegas menolak kehendak, karena bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Sultan-Hasanuddin

Karena alasan ini, Sultan Hasanuddin pernah berkata kepada perusahaan, “Mari kita bertindak bersama dan mengeluh tentang semua kegiatan”. Tetapi perusahaan tidak mau, karena dia telah melihat jumlah keuntungan di negara ini, sedangkan Sultan Hasanuddin berpendapat bahwa cara ini salah.

VOC Belanda yakni telah menyerang wilayah Makassar pada tahun 1660, tetapi gagal dalam menaklukkan sebuah kerajaan Gowa. Pada 1667, VOC Belanda kembali menyerang Makassar di bawah kepemimpinan Cornelis Speelman dan sekutu lainnya.

Dalam sebuah pertempuran telah terjadi di mana-mana, sampai akhirnya kerajaan Gowa dipaksa dan semakin melemah, hingga Sultan Hasanuddin dipaksa pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya untuk menandatangani sebuah perjanjian Bungaya.

Gowa, yakni begitu merasa sakit hati, dan akan menolak lagi. Pada 1669 adanya sebuah pertempuran yang sangat pecah kembali. Pada tanggal 24 Juni 1669, perusahaan berhasil menaklukkan benteng Gowa, Benteng Sombaopu. Sultan Hasanuddin yakni telah meninggal pada 12 Juni 1670.

Tuntutan Pihak Belanda

Dalam adanya sebuah perundingan telah berlangsung pada tanggal 28 Desember 1655, di mana dalam pihak Belanda telah menuntut:

  • Makassar di wilayah Maluku dapat kembali ke negara mereka.
  • Belanda dapat menangkap semua orang Makassar yang berlayar di sebuah perairan daerah Maluku.
  • Seorang Raja Gowa dapat menagih utangnya di wilayah Ambon
  • Penentang dari pihak Belanda bukanlah musuh dalam sebuah Kerajaan Gowa.
  • Tahanan kedua belah pihak harus diserahkan satu sama lain.
  • Belanda tidak akan ikut campur dalam perselisihan antara Makassar.
Baca Juga :  Perang Padri

Klaim Belanda dianggap engan Sultan yang begitu sangat merugikan dalam Gowa dan karena itu ia ditolak. Sultan bahkan menentang adanya sebuah peperang. Ia telah dibantu dengan Mangkubuminya Karaeng Galesong, Karaeng Karunrung, dan Karaeng Bonto Marannu untuk menunjukkan kekuatan. Keluar dari tantangan ini, Belanda juga meningkatkan kekuatan mereka. Armada bantu Batavia di bawah arahan Mr. Johan Van Dam.

Baca Juga :

Demikian pembahasan yang telah kami sampaikan yakni mengenai Sejarah Sultan Hasanuddin secara lengkap dan jelas. Semoga ulasan ini dapat berguna dan bermanfaat.