Silsilah Kasepuhan Cirebon

Posted on

Silsilah Kasepuhan Cirebon – Cirebon mempunyai sebuah empat istana, yakni Istana Kanoman, Istana Kacirebonan, Istana Kasepuhan, dan Istana Kaprabonan.

Istana Kasepuhan sekarang dijalankan dengan Sultan Sepuh XIV. Dengan nama Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat. Ia merupakan seorang keturunan salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah.

Bagaimanakah silsilah dalam kasepuhan Cirebon? Dalam pembahasan kali ini, kami akan meringkas secara jelas dan lengkap. Untuk ulasan selengkapnya sebagai berikut.

Apa itu Kesultanan Kasepuhan ?

Kesultanan Kasepuhan merupakan sebuah daerah yang muncul dari pembagian Kesultanan Cirebon ke tiga putranya setelah kematian Sultan Abdul Karim (Pangeran Girilaya) atau pada tahun 1666 yang dikenal sebagai Panembahan Ratu pakungwati II.

Namun, menurut naskah Mertasinga, Sultan Abdul Karim meninggal di Mataram pada 1585, 12 tahun setelah kepergiannya ke Mataram. Putra-putra Pangeran Girilaya adalah Pangeran Raja Martawijaya, yang kemudian memerintah Kesultanan Kasepuhan, yang berada di istana Kasepuhan.

Silsilah-Kasepuhan-Cirebon

Seorang pangeran dalam Raja Kartawijaya, yakni dapat memerintah terhadap kesultanan Kanoman, berfokus pada Istana Kanoman, dan Pangeran Raja Wangsakerta, Panembahan Cirebon, yang ditugasi yakni akan mendidik putra dan putri istana.

Silsilah Masa Kesultanan Cirebon

  • P. Adipati Pasarean (Pangeran Muhammad Arifin) yakni hidup dari tahun 1495-1552.
  • P. Adipati Carbon I (Pangeran Sedang Kamuning) yakni hidup dari tahun 1520-1533.
  • Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) yakni telah bertahta dari tahun 1478-1568.
  • P. Adipati Carbon II merupakan Pangeran Sedang Gayam.
  • Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) dapat bertahta dari tahun 1649-1662.
  • Panembahan Ratu Pakungwati I (Pangeran Emas Zainul Arifin) telah bertahta dari tahun 1568-1649.
Baca Juga :  Perang Asia Timur Raya

Latar Belakang

Keraton Kasepuhan yakni sekarang telah dipimpin dengan Sultan Sepuh XIV. Dengan nama Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat. Ia adalah keturunan salah satu Wali Songo, yaitu Syeh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati, telah dikutip dengan Baluarti Kraton Kasepuhan Cirebon oleh E. Nurmas Argadikusuma, memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan Cirebon sebagai pusatnya. Sunan Gunung Jati menikah dengan sepupunya Ratu Ayu Pakungwati, yang merupakan putra Pangeran Cakrabuwana. Pangeran Cakrabuwana merupakan seorang Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Sunan Gunung Jati yakni telah ditunjuk sebagai pemimpin kota Cirebon sejak pernikahannya.

Ratu Ayu Pakungwati diangkat dengan ayahnya ke istana Pakungwati atau Dalem Agung Pakungwati pada tahun 1430. Ini adalah pendahulu untuk pembangunan empat istana di Cirebon, termasuk Istana Kasepuhan. Sampai akhirnya Sunan Gunung Jati meninggal pada 1568 dan tahtanya digantikan oleh cicitnya Pangeran Emas Zainul Arifin hingga 1649. Selain itu, istana ini dikelola oleh Pangeran Girilaya pada tahun 1649-1662.

Sejarah Kesultanan Kasepuhan

Selama masa pemerintahan Sultan Sepuh V, Sultan Sjafiudin Matangaji, Sultan Sepuh V membuat banyak perbaikan pada Kompleks Taman Sari Gua Sunyaragi, di mana Allah mendedikasikan Swt. Dapat berfungsi sebagai sebuah markas tentara dan kamp Sultan dan sebagai fasilitas pembuatan senjata yang berdekatan dengan Taman Sari Sari Sunyaragi.

Contoh-Keraton-Kasepuhan-Cirebon

Kesultanan Kasepuhan mempunyai suatu pangkalan dalam militer lain, di wilayah desa Matangaji, yang sekarang merupakan bagian dari distrik administratif subdivisi Sumber di kabupaten Cirebon. Aktivitas di Gua Taman Sari Sunyaragi kemudian menarik perhatian Belanda untuk menyerang mereka.

Pada 1852, seorang Pangeran Adiwijaya, yang kemudian menjadi penjaga Pangeran Raja Satria, membangun kembali dan memperkuat Taman Air Gua Sunyaragi. Dia menyewa seorang etnolog Cina Aristek, tetapi kemudian arsitek itu ditangkap dan dipaksa untuk memberi tahu Belanda rincian taman air Gua Sunyaragi terbunuh.

Baca Juga :  Sejarah Angklung

Mengungkap kegiatan di taman air Gua Sunyaragi mendorong Pangeran Adiwijaya untuk menginstruksikan bawahan dan tentara untuk mempersiapkan segala peluang yang mungkin muncul. Akhirnya, diputuskan untuk mengevakuasi semua senjata dan tentara dari taman air Gua Sunyaragi, sehingga serangan Belanda selanjutnya tidak menyelesaikan sesuatu.

Baca Juga :

Demikian pembahasan yang dapat kami sampaikan dengan jelas dan singkat mengenai Silsilah Kasepuhan Cirebon. Semoga ulasan ini, dapat berguna dan bermanfaat bagi Anda.